Detik demi detik terlewati setelah metronome itu berbunyi , namun aku masih belum memulai permainanku. Aku gugup. Besok sudah harinya, seperempat bagian lagi dari lagu ini belum dapat aku mainkan dengan sempurna. Deru nafas semakin memburu , tanda hatiku sedang gelisah. Namun aku tau, bukan karena aku takut akan hari esok, bukan.

“Ka, kok diem ? ayo dimulai. Ujiannya tinggal besok loh, tapi kamu masih aja macet di bagian ini” , suara Mas Naufal memecah keheningan. Ia mematikan metronome dan segera duduk tepat di sampingku, “sini, Mas contohin lagi”. Aku melirik dirinya, kuamati. Jari-jarinya menari dengan lincah di atas tuts hitam dan putih itu. Perpaduan bunyi not menciptakan alunan melodi yang sungguh indah. Matanya terpejam, ia sangat menikmati permainannya. Kuamati lebih dalam wajahnya, ada getaran halus yang mendesir di hatiku. Deru nafas itu kembali lagi, aku gugup. Suara jantungku abnormal, berbunyi lebih cepat dari biasanya. Entah apakah ini yang dinamakan cinta, aku tak yakin. Namun aku merasa amat nyaman di dekatnya. Bayangnya pun seakan tak pernah mau pergi dari pikiranku.

Ia membuka matanya, “ Nah, seharusnya kamu mainkan seperti itu ka” . Aku baru menyadari ia telah selesai memainkan lagu itu. “ sekarang bagian kamu. Berlatihlah dahulu, Mas mau keluar bentar, ambil minum. Ulang dari awal ya, kamu pasti bisa, Andika”

Advertisements