Assalamualaikum

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang..

Seuntai nasehat bijak yang diutarakan oleh imam syafi’i, bermakna indah, dalam, dan sarat akan makna. Jika di negeri kita, sama halnya dengan “berakit-rakit dahulu, berenang kemudian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang kemudian”. Ya, Pengorbanan dalam meraih kemenangan. Perjuangan dalam menjemput kesuksesan. Bukankah puncak ada setelah pendakian ?

Setiap hal yang ingin kita capai dalam kehidupan, tidak serta merta bisa datang dengan sendirinya, sim salabim. Tidak ada yang namanya durian runtuh , layaknya pepatah, selalu ada harga yang harus dibayar untuk mencapai suatu kesuksesan. Saya bukan motivator ulung yang mahir memainkan kata, merangkainya untuk memberikan semangat penuh bagi pendengarnya, bukan juga seorang inspirator dengan hal yang dilakukan dapat menjadi inspirasi dan membawa sumbu semangat bagi orang lain. Saya hanyalah seorang penulis amatir, seorang mahasiswi tingkat akhir yang bertahan dan sedang berjuang bertanggung jawab penuh menyelesaikan 4tahunnya, menjemput 2 huruf di belakang nama (yak ini apaaa –“)

Wess udah seriusnya. Saya bukan tipikal orang yang bisa tahan berlama-lama serius, kecuali kalo sudah menyangkut tugas akhir eh. Berjuang. Satu kata yang melekat dalam diri saya untuk beberapa bulan terakhir. Apa pasal ? ya jawabannya cuma satu, bachelor. Saya menempuh studi di jurusan yang mewajibkan mahasiswanya melewati dengan sukses 3 mega proyek sebelum resmi dikeluarkan dengan hormat, dilepas untuk mengabdi ke masyarakat, membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi. Mega proyek itu sebut saja riset, KP, TA ya bisa juga KP, riset, TA atau juga TA, KP, riset, yang manapun disuka, fleksibel . Dan untuk menyelesaikan 3 proyek besar ini, dibutuhkan sebuah mars mahasiswa, totalitas perjuangan. Mungkin sedikit berlebihan, tapi inilah adanya. Orientasi masyarakat akan status MAHAsiswa sudah dalam. MAHA, yang paling. Induknya siswa, di atas siswa. Seseorang dengan gelar MAHAsiswa mengemban amanah lebih untuk membawa kemaslahatan bagi masyarakat. Mungkin saya tidak akan membahas yang tabu menjadi layak secara detail dan tajam, karena saya bukan silet (?)

Saya beri gambaran kecil dulu bagaimana 3 mega proyek kami ini.

  1. KP = Kerja praktik. Ya sebut saja magang. 3 tahun lebih dipupuk dan dipusingkan dengan teori-teori perpindahan panas, kinetika, termodinamika dan lainnya itu , kali ini kami harus mencicip bagaimana rasanya ilmu yang kami pelajari dipraktikkan secara nyata. Sense of engineering dituntut disini (katanya). Ya intinya, kami jadi anak magang yang masuk jam 8 pulang jam 5, dihadapkan dengan flowsheet dan proses industri dengan segambreng sop yang ada. Diakhir kerja praktik, akan ada presentasi tugas khusus sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada pihak industri dan pendadaran sebagai oleh-oleh ilmu untuk jurusan.
  2. TA = Tugas akhir, skripsweet. Di Teknik kimia, kami diwajibkan untuk membuat pra perancangan pabrik untuk suatu produk. Misalnya, pra perancangan pabrik pembuatan asam sulfat dengan proses kontak kapasitas 300.000 ton/ tahun. Pemilihan senyawanya sendiri membutuhkan banyak pertimbangan, seperti kebutuhan dalam negeri yang tinggi, potensi bahan baku yang melimpah, harga jual yang memadai, atau bisa juga karena prosesnya mudah dan ada arsip eh.
  3. Riset = penelitian. Dari ketiga mega proyek , baru ini yang saya jalani . iya jalani, belum selesaikan :’ Penelitian, sepertinya gak usah dibahas panjang, karena sudah cukup lumrah meski untuk orang awam. Hal yang dilakukan ya cari masalah, bertanya dan menjawab. Kita melakukan sesuatu, dapat hasil, lantas bertanya “Kenapa begini ? kenapa jadinya seperti ini ?” dan pertanyaan-pertanyaan ini harus mampu kamu jawab sendiri (yakk -__-) hahaha sorry, Cuma intermezzo. Penelitian itu hakikatnya ya mencari tahu hal yang baru, atau sudah ada namun divariasikan dan diinovasikan sehingga muncul suatu yang baru dan keluaran dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih bagi ilmu pengetahuan . is it too much ? haha saya emang lagi gak bisa berpikir jernih kalo ada sangkut pautnya dengan penelitian, lieur euyy. Tapi poin intinya seperti itulah kira-kira.

Poin terakhir ini yang menjadi sumber inspirasi saya untuk menulis mengenai perjuangan. Mungkin terlihat lebay kayak kata anak jaman sekarang, namun begitu banyak perubahan yang terjadi ketika saya memulai riset. Pada awalnya, saya pikir riset ini layaknya praktikum, melakukan sesuatu sesuai dengan metodologi yang ada, mendapatkan hasil, analisa, membuat laporan, lantas seminar. Pikiran yang membuat saya dengan mantap mengatakan “Insya Allah akhir desember kelar, umi” dengan dosen pembimbing saya di pertengahan bulan oktober. Ya, saya kira riset ini akan berjalan mulus di jalan tol, tanpa ada hambatan yang berarti. Namun ketika mulai, banyak faktor x yang terjadi. Hasil yang tidak semestinya, bahan kurang dan mahal (eh), letak lab berjauhan, analisa gagal, sampel jamuran, pre treatment bahan baku lama, yang membuat target awal wassalam. Belum lagi perasaan was-was, gelisah, dan cemas, khawatir dengan hasil yang akan didapatkan. Sejak saat itu, saya semakin realistis dengan target yang dibuat dan memperbaiki niat riset ini.

Sebelum mulai penelitian, dalam pikiran saya hanya bisa menyelesaikan riset ini dengan cepat, bagaimanapun caranya . Sehingga membuat saya kehilangan esensi sebenarnya, menikmati proses. Iya, dengan target saya yang ingin segera selesai, menjadikan saya sering menggerutu ketika apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan. Ketika preparasi bahan baku memakan waktu lama, yang otomatis membuat saya merubah target, saya uring-uringan, senyuman memudar, tak ada lagi perasaan riang , yang ada hanya beban dan tumpukan pikiran mencari cara bagaimana bisa mempersingkat waktu pengeringan. Mungkin iya ada baiknya, mencari solusi, namun tidak untuk hal-hal buruk sebelumnya :’). Niat awal saja juga sudah salah, riset pengen cepet selesai, udah. Namun semakin kesini, saya semakin berpikir dan banyak merenung , bukankah tiap 5 kali sehari kita ikrarkan ,

Inna solati, wanusuki, wamahyaya, wamamati, Lillahirabbil ‘alamin.” Solatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya untuk Allah.

Lantas, bukankah riset ini juga salah satu bentuk ibadah ? salah satu bentuk kesyukuran sekaligus pertanggungjawaban akan ilmu yang ada ? kenapa tidak melakukannya dengan lebih baik ? Innamal a’malu binniyat. Setiap amal berdasarkan niatnya. Dengan semua waktu, pikiran, tenaga, materi, dan hati yang sudah tercurah total untuk proyek ini, kenapa tidak membuatnya lebih bernilai di hadapan  Yang Maha Kuasa ? 🙂 . Ya, seperti kata Imam syafi’i, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang, pun dengan ini. Manisnya sarjana juga terasa setelah lelah berjuang 🙂

wassalamualaikum

Advertisements