Assalamualaikum wr wb
Setelah sekian abad menghilang, menyibukkan diri dengan dunia nyata, menyelesaikan segala yang mesti diselesaikan, akhirnya saya kembali untuk berbagi rasa, menyimpan memori dalam tulisan agar bisa selalu dikenang tanpa mesti diulang .

By the way , postingan terakhir dipublish sekitar awal januari, masih musimnya orang-orang duniawi menyusun resolusi untuk satu tahun ke depan dan sekarang sudah awal november yang berarti 10 november kian mendekat. eh salah maksudnya berarti kurang lebih 10 bulan saya tidak produktif di dunia perbloggeran 😦 padahal niat dari dulu kala adalah 1 day 1 posting. Bener-bener jauh api dari panggang hmm .

Masih berkaitan dengan postingan sebelumnya , kemarin saya membahas mengenai 3 mega proyek sebelum memakai togaΒ  dan concernnya ada di riset . Awal januari saya masih in a relationship sama yang namanya daun nanas, autoclave, natrium hidroksida, asam sulfat, dan tentunya ragi roti. Basecamp “terindah” di kampus adalah laboratorium biopros dimana saya memadu kasih dengan berbagai macam alat gelas dan senyawa yang saya tidak tau rasanya apa. Masih setia dengan ngeretokkin umi “tiap harinya” untuk bimbingan, bertanya, memastikan hal-hal kecil agar riset berjalan sempurna (penyakit perfeksionis kambuh). Research sukses insya Allah selalu jadi top folder yang saya buka tiap waktunya untuk membaca beragam buku, jurnal, maupun referensi penelitian sebelumnya (anggap saja pencitraan). Dan setelah segala kerempongan ini saya jalani akhirnya tiba juga dengan kata-kata SELESAI. Iyaaaa alhamdulillah setelah 9 bulan berkutat terhitung dari pembuatan proposal akhirnya saya dan rekan melaksanakan seminar penelitian pada 20 juni kemarin . Iya 20 juni. Sudah lewat 4 bulan dan saya baru mau cerita sekarang hahah –‘ bawaan mager jadi tolong dimaklumi , jangankan untuk posting something, sampai sekarang saja TA saya belum selesai ketika teman-teman lain sudah mau maju sidang sabtu ini #kemudianmelow #nangisdibawahshower #abaikan #tiaporangpunyajalanhidupmasingmasing

Jadi karena kegalauan akan asap yang tak kunjung hilang ditambah pemadaman bergilir menyerang, akhirnya saya putuskan untuk produktif di tengah kegelapan malam tanpa penerangan selain secercah cahaya lilin dan cahaya iman. Prioritas malam ini seharusnya skripsweetan tapi apa daya pihak p** sepertinya tak ridho saya romantisan sama tereftalat , alhasil saya jadi menyelingkuh kesini. Oke saya rasa cukup untuk pendahuluannya yang benar-benar tidak berarti ini.

Jadi beberapa hari kemarin saya kepikiran untuk mengikat kenangan selama riset, kp, dan (mungkin) ta dalam tulisan-tulisan absurd agar bisa jadi bahan nostalgia di waktu mendatang. Here, some unforgettable moments dalam kerasnya dunia penelitian !

Ready to go !

1. Layaknya orang-orang kece dalam penelitian, hal pertama yang saya dan rekan lakukan ialah mengambil bahan baku (read: daun nanas). Fyi , bimbingan umi ada 2 tim, saya dan pepy, serta heru dan gigih. Kami sama-sama membuat bioetanol dari daun nanas namun dengan variabel yang berbeda. Daun nanas yang diambil lumayan banyak sekitar 10 kg yang tentunyaa sangat-sangat berlimpah untuk penelitian kami yang hitungan kasarnya hanya membutuhkan 1.25 kg utk seluruh sampel per tim.

daun nanas 10 kg :')daun nanas 10 kg :’)

Sebelum masuk ke proses inti, kami harus melakukan pretreatment fisik terlebih dahulu untuk daun ini. As we know, daun nanas ukurannya lumayan panjang-panjang, sekitar 70-80 cm sehingga untuk memudahkan pencucian dan pengeringan, kami harus membagi dua daun-daun tersebut. Iya, kami memotong dan mencuci 10 kg daun nanas itu satu per satu baru kemudian bisa dijemur dibawah sinar matahari sampai kering.

tempat yang terbatas Untuk waktu pengeringan, saya mencari tau terlebih dahulu. Naluri alamiah saya yang seorang stalker sejati mempertemukan saya dengan mas jamil , salah satu alumni di univesitas di daerah cilegon yang telah melakukan penelitian daun nanas menjadi pulp. Pengalaman beliau menjemur daun nanas memakan waktu hanya 3 hari sehingga dengan optimisnya saya dan rekan menargetkan waktu mulai running di lab adalah sekitar 1 minggu setelah penjemuran. Namun naas, 1 minggu lewat , baru sebagian kecil dari daun-daun tercinta itu yang kering. Oke sepertinya letak geografis lokasi penjemuran mempengaruhi kecepatan penguapan air yang dikandung oleh daun ini. Belum lagi saat itu musim hujan dan mengharuskan kami siaga level 10 dalam proses penjemuran. Hitungan hari berganti menjadi minggu dan dengan segala peluh proses pengeringan akhirnya membuahkan hasil 1 kg daun nanas kering. Jauh dari harapan karena kami membutuhkan 2,5 kg untuk running.

2015-01-23 06.22.53Kami khilaf tidak mempertimbangkan aspek penyusutan bahan baku yang mencapai hampir 90%. Keadaan ini menuntut kami untuk mengambil bahan baku lagi dan tentunya memotong, mencuci, serta menjemur LAGI. Hidup ini memang perjuangan sob :”)

Setelah melakukan diskusi panjang, akhirnya kami sepakat untuk pergi ke desa sukajadi (lokasi kebun nanas) berempat naik motor. Desa ini terletak di daerah gelumbang, sekitar 1 jam lebih dari kampus tercinta. Berbekal bismillah, saya nekat pergi ke sana tanpa izin orang tua (maaf y ma pa) T.T selama riset saya memang memutuskan untuk jadi anak kosan selama 5 hari tiap minggunya, sehingga kesempatan ini saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk totalitas dalam penelitian, termasuk berkelana mengambil bahan baku. Perjalanan pergi alhamdulillah aman seaman-amannya, namun tidak dengan waktu pulang.Β  Setelah 3 karung daun nanas berhasil diamankan, sekarang gilirankami yang tidak aman. Kami melupakan satu hal, musim hujan. Saat itu waktu sekitar pukul 4 sore dan hujan masih turun dengan cukup deras.Β  Kami ditawari untuk bermalam disana, yang tentunya langsung saya tolak. Pasalnya to-do-list untuk malam dan esok hari sudah dibuat, tidak bisa diubah. Belum lagi kebiasaan mama yang biasa menelpon di malam hari untuk memastikan keadaan anaknya baik-baik saja membuat saya semakin keras menolak tawaran tersebut. Tunggu punya tunggu setengah jam kemudian akhirnya kami pulang, lebih tepatnya memaksa pulang. Tantangan pulang cukup berat saat itu karena kami harus menempuh 1 jam perjalanan naik motor dengan beban yang bertambah, hujan yang masih mengguyur, dan tentunya jalan yang licin. Nekat, sangat nekat. Apalagi kami harus menjaga daun nanas dalam keadaan kering. Hal ini membuat rekan tercinta saya, sebut saja pepy, melaju dengan sangat cepat dan dahsyat saat mengendarai motor,Β  sekitar 70-80 km/jam menurut pengakuan heru dan gigih yang selalu berusaha mengimbangi motor kami. Pepy seakan “lupa” kalau sedang membonceng orang yang memangku 1 karung daun nanas -_____- sekali lagi , hidup ini memang perjuangan sob.

2014-12-09 14.12.04

2. Saya dan pepy berlainan tim dalam KP dan TA. Hal ini mengharuskan kami merencanakan dan mengatur jadwal dengan cerdas agar riset dapat berjalan baik tanpa terjadi tragedi tinggal meninggal pasangan. Jadwal saya KP ada di bulan februari sedangkan pepy di pertengahan januari, yang berarti kami memiliki waktu hingga tengah januari dalam menyelesaikan riset bersama. Namun kembali lagi, manusia berencana Allah yang menentukan.
Di suatu Kamis pagi yang cerah tiba-tiba pepy (sok) misterius ingin membicarakan perihal riset. Beliau baru menerima email dr che***n tempat dia proposed untuk KP yang berisi perubahan jadwal dari pertengahan januari menjadi pertengahan desember. Oke good. Posisi saat itu kami belum mulai running sama sekali. Akhirnya dengan kerendahan hati saya merelakan kepergian rekan tercinta ke riau, tentunya setelah menyelesaikan 10 sampel pertama dengan keterbatasan alat, bahan, dan waktu. Cukup Allah yang tau bagaimana kerennya kami penelitian saat itu, dan kardus bekas yang menjadi saksi perjuangan kami , ceileh.

3. Bukan penelitian namanya jika tanpa kecelakan-kecelakaan “kecil” yang terjadi di dalam maupun di luar laboratorium. Idealnya, sebelum memasuki lab kita harus memahami bagaimana tindakan safety agar praktikum/penelitian dapat berjalan dengan baik. NamunΒ  inilah yang saya abaikan selama penelitian. Dengan dalih kelelahan, tangan dan lidah saya dengan suksesnya sudah mencicipi bagaimana rasanya asam sulfat 26.5% . So nice πŸ™‚ pun riset ini memberikan saya kenang-kenangan di bagian tangan akibat kemachoan jatuh dari motor sebelum dikendarai dan terseret sejauhΒ  kurang lebih 2 meter. You ar so cool yaak B) ! Jadi plis bagi teman-teman maupun adik-adik yang hendak melakukan aktivitas apapun, khususnya dengan bahan berbahaya, pastikan kalian dalam keadaan fit dan sudah memahami bagaimana handling bahan tersebut πŸ˜‰

Sebenarnya terlalu banyak momen-momen indah dan mengharukan saat penelitian yang tidak akan ada habisnya jika diuraikan. Namun berhubung malam yang kian larut terlebih saya juga sudah lelah mengetik, baiknya disudahkan saja cerita abal2 ini.
Semoga 3 poin di atas yang sudah saya relakan untuk menjadi konsumsi publik dapat bermanfaat untuk diambil ibrohnya. Dan apapun yang kalian lakukan saat ini, seberapa sulit pun itu, jalani saja dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Nikmati prosesnya karena peluh dan tangismu hari ini akan Allah ganti dengan tawa bahagia di kemudian hari , insya Allah.

Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran (yang kau jalani) yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit (Ali bin Abi Thalib)

Wassalamualaikum wr wb

Advertisements