Assalamualaikum wr wb.

“Mudah bagi Allah untuk mengambil sesuatu, pun untuk memberikannya kembali”

Beberapa hari yang lalu, saya dan rekan-rekan disibukkan dengan urusan pendaftaran wisuda yang notabene ditutup pada hari Jumat jam 3 teng. Bisa dibayangkan kerepotan kami untuk mengurus berkas yang memang tidak terlalu banyak, namun agak rempong, terlebih karena kampus kami yang memiliki 2 region yang terpisah sejauh kurang lebih 32 km, membuat kami semakin riweuh dengan segala bentuk keadministrasian. Jadilah di suatu Kamis siang yang cerah, dimana jadwal saya adalah ke Indralaya untuk menemui seorang dosen, harus dikacau dengan panggilan teman-teman yang berada di kampus Palembang karena ada berkas yang harus diurus disana. Hal itu berarti pagi hari saya mesti ke ranah perjuangan dan siang hari saya harus langsung kembali ke kampus Palembang. Lantas, apa menariknya ? sabar ya gaes, ini belum masuk ke inti cerita. Jadi layaknya pejuang toga lainnya, bolak-balik Palembang-Indralaya-Palembang bukanlah hal yang menyenangkan. Jarak yang bisa memakan waktu tempuh hingga 1 jam hanya akan membuat kita kelelahan, terlebih dengan kondisi fisik yang sedang rapuh karena harus bolak-balik mengurus ini itu ditambah dengan terik matahari yang menyengat.

Sekitar jam setengah 2 lebih saya tiba di kampus Palembang. Selain tas punggung, saya juga membawa tas jinjing yang berisikan laporan tugas akhir setebal ratusan halaman plus map yang berisi berkas-berkas penting. Setelah tiba di jurusan, menghampiri rekan-rekan yang lain untuk menitipkan berkas-berkas Maha Penting itu dengan mereka, lantas izin menunaikan solat dzuhur terlebih dahulu karena saya berangkat dari Indralaya tepat sesaat setelah adzan dzuhur berkumandang (plis jangan dicontoh). Sesampainya di mushola, saya melihat ada beberapa mahasiswi yang sedang mengobrol santai di teras mushola, sedang mushola dalam keadaan kosong, hanya ada seorang bapak yang sedang menunaikan solat. Seperti biasa, sebelum mengambil wudhu saya langsung meletakkan tas di sisi kanan mushola, menyandarkannya ke dinding, melepas kacamata serta menyimpannya ke dalam tas. Hal yang selalu saya lakukan ketika hendak solat baik di mushola kampus Indralaya maupun Palembang. Di sebelah tas saya, teman saya meletakkan tasnya juga. Kami pun langsung ke tempat wudhu yang berada di sebelah luar bagian kanan mushola. Tidak membutuhkan waktu yang panjang untuk kami mengambil wudhu, walaupun sudah sekhusyuk mungkin, paling lama hanya menghabiskan waktu 5 menit.

Setelah itu kami kembali masuk ke dalam mushola. Saya yang terbiasa membawa mukena sendiri dengan alasan lebih nyaman, segera membuka tas untuk mengambilnya. Mukena tersebut saya letakkan dalam tas di bagian yang sama dengan saya menyimpan laptop. Perlahan saya membuka tas dan taraaaaa isi tas saya hanya ada mukena serta casan laptop, sedangkan laptop saya sudah Raib! Iya, laptop saya hilang! Betapa paniknya saya, teman saya pun ikut panik dan langsung mengecek tasnya, pasalnya ia juga membawa laptop, namun alhamdulillah laptopnya masih ada. Tapi laptop saya yang entah kemana, Allahu. Kami saling mengingat dan memastikan bahwa laptop saya seharusnya memang ada di dalam tas karena saya terakhir membuka laptop di dalam perjalanan ke Palembang untuk memindahkan berkas yang harus kami print. Saya sangat yakin laptop saya diambil orang, karena dalam beberapa tahun belakang memang santer berita kehilangan di kawasan kampus. Namun saya teringat bahwa belum solat, akhirnya saya pending sebentar kepanikan saya untuk memenuhi panggilan Rabb yang sudah saya tunda. Di dalam solat ada rasa ketenangan yang berbeda, terlebih saat sujud dalam, di hati saya mencoba untuk memasrahkannya pada Illahi, toh itu barang hanya titipan. Hanya saja, saya meminta kekuatan padaNya, pasalnya saat ini pengeluaran lagi banyak-banyaknya, belum lagi urusan sidang dan kejelasan wisuda yang belum clear, data-data tugas akhir yang paling update belum saya back up, terbayang wajah orang tua saya saat itu. Tidak mungkin saya harus menyusahkan mereka lagi dengan berita kehilangan laptop :’ Intinya pasrah, saya hanya berkata pada Allah, “Ya Allah jika laptop itu masih rezeki saya, bakal balik kan ya, Ya Allah?”. Segera setelah saya menunaikan solat dan berdoa, lantas mengenakan kaos kaki dan meluncur kembali ke jurusan, memuaskan hati untuk mengecek di tas jinjing jikalau ada laptop saya *padahal saya sendiri tau bahwa tidak akan ada di tas jinjing karena saya tidak pernah meletakkan barang berharga di tas lain selain tas inti saya.

Setibanya di jurusan, saya langsung mengambil tas jinjing yang berada di tengah teman-teman saya dan seperti prediksi, hanya ada laporan TA dan map berkas wisuda. Dengan emosi saya membantingnya, terduduk ke lantai dan langsung menangis. Entahlah, pikiran saya memang sedang kalut, masalah satu belum selesai sudah harus ditambah dengan masalah lain. Teman-teman saya bingung dan bertanya ada apa. Masih dengan menangis saya jelaskan kepada mereka. Sontak mereka kaget, sebagian menenangkan, sebagian lagi langsung ke arah mushola untuk ikut mencari. Sekali lagi saya hanya bisa pasrah, memikirkan langkah apa yang selanjutnya saya ambil. Husnudzaan dengan Allah, husnudzaan bahwa tiada beban tanpa pundak. Bukankah Allah sendiri yang sudah berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah (2) :286)

Sekitar 5 menit terlewati dengan tangis air mata, tiba-tiba ada dorongan kuat di hati untuk kembali lagi ke mushola, dorongan yang menggerakkan kaki saya untuk melangkah. Sungguh saya tidak tau mengapa, namun saya ikuti saja dorongan itu. Beberapa teman saya yang terlebih dahulu ke mushola masih ada disana. Saya hanya menatap mereka sekilas lantas masuk ke sisi kiri mushola. Di sana memang ada gantungan mukena serta rak kosong dengan mukena dan sajadah yang belum disusun rapih. Saya kibaskan mukena, ternyata nihil. Lalu target saya selanjutnya ialah sajadah, saya angkat perlahan, dan treeeng tergeletak laptop saya disana T.T Allahu Akbar ! Saya raih dan bergegas keluar menunjukkannya ke yang lain. Mereka terperangah, bertanya dimana saya menemukannya, yang langsung saya jelaskan lengkap dengan spekulasi dadakan saya kenapa laptop tersebut bisa ada disana.

Hingga saat saya menceritakan ini, trauma itu masih ada meski sedikit. Dan tanda tanya itu juga masih ada, kenapa saya bisa kembali lagi ke mushola dan langsung mengarah ke rak kosong tersebut. Jangankan teman-teman saya, pun saya sendiri yang melakukannya juga masih tidak percaya hal ini terjadi. Hanya satu yang saya yakini, ada Campur Tangan Allah di dalamnya 🙂 Entahlah, mungkin Allah ingin membuktikan kebesaranNya, juga membuktikan bahwa rezeki memang tidak akan kemana, bahwa jika tertulis sesuatu itu rezeki kita, mau bagaimanapun juga akan tetap menjadi milik kita. Mungkin juga Allah ingin menguji kepasrahan HambaNya.

Allah selalu selipkan hikmah di tiap kejadian, di tiap skenario yang Ia rancang. Cukup kembalikan semua kepada Allah, bukankah seperti kata seorang Ustadz, Allah dulu Allah lagi, dan Allah terus ?

 

RIZKI

Advertisements