Sepenggal Kisah dari Pagar Alam [Part I]

Tags

,

Assalamualaikum wr wb

Pagar Alam, kota penuh kenangan untuk sebagian kecil pejuang IMATEK ’12-’13. Sebuah kisah yang mengakar kuat sebagai memori indah, sebuah potongan episode kehidupan berukhuwah sembari mentafakuri ciptaan-Nya.

23 Desember 2013

Ruang tengah dalam kondisi berantakan. Penuh dengan pakaian dan tas, sebagai penanda persiapan keberangkatan. Sesuai dengan rundown yang ada, memilah baju dan rok agar tidak terlalu banyak. Hanya tiga hari waktu yang dibutuhkan untuk berada di Pagar Alam, namun packingnya membutuhkan waktu seharian. Semua baju dihamburkan, pegang sana-pegang sini, membayangkan situasi yang akan terjadi sambil mencocokkan “kostum” mana yang sesuai digunakan. Kaos ! Yak, mayoritas pilihan jatuh kepada bahan yang santai nan nyaman ini. Tidak ketinggalan jaket-jaket tebal untuk menghalau hawa dingin yang menusuk.

upeti !

upeti !

Di tengah sibuk packing, sebuah sms masuk, dari Kak Chan, kakak tingkatku di kampus. Beliau mengabarkan bahwa salah satu dosen kami kecelakaan dan dirawat di RS. Siti Khadijah. Seketika aku terdiam, meletakkan hp dan melesat langsung ke kamar mandi. Mengguyur kelelahan setelah seharian berkemas. Pikiranku tak tentu, melayang membayangkan keadaan dosen tercinta. Khawatir, gelisah, tentu. Namun aku tepis semua risauku dengan berpikiran positif, berprasangka baik bahwa beliau tidak kenapa-kenapa. Setelah mandi,  ku balas sms Kak Chan, mengajaknya untuk menjenguk dosen kami. Gayung bersambut, beliau mengiyakan ajakanku.

Sekitar pukul 15.00 lebih, ia menjemputku dan kami segera tancap gas ke Siti Khadijah. Sesampainya disana, kamar beliau sudah penuh sesak oleh kakak-kakak tingkatku, sedang beliau tergeletak dengan jarum infus di tangan kirinya 😦  Wajahnya sayu, lesu, tak seperti yang biasa ku temui di gedung jurusan. Usut punya usut, dosenku ini terjatuh dari motor ketika bepergian bersama suaminya. Entah karena posisi jok yang tidak semestinya atau apa, aku juga tak paham. Tapi Alhamdulillah saat itu beliau menggunakan helm sehingga mengurangi risiko benturan di kepalanya.  Dengan keadaannya yang masih sakit, beliau masih bisa bercanda dengan kami. Beliau mencandai kakak tingkatku yang sudah “tak sejalan” lagi dengan kakakku yang lain :’) . Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui, kami pun meminta izin dan doa untuk keberangkatan ke Pagar Alam. Sifat keibuannya muncul lagi. Serentetan pertanyaan beliau ajukan dengan kami. Berapa orang, yang ceweknya berapa, siapa aja, berapa lama, bla bla. Tak ketinggalan amanatnya kepada kami untuk tetap menjaga batasan laki dan perempuan serta pesan untuk para adam agar selalu menjaga kami, kaum hawa, harta berharga. Aaaaah Ibu, rasa sakit pada dirimu tidak melunturkan perhatian dan kasih sayangmu kepada kami, anak-anakmu di dunia perkuliahan. Syafakillah Ummi. Setelah menjenguk dosen kami, aku pulang dan kembali melanjutkan packing  yang tak kunjung selesai. Alhamdulillah aku memiliki super mom. Saat aku pergi, Beliau yang meneruskan packing ku. Semua dirapihkan. Tak ketinggalan, barang-barang kecil seperti sendok dan garpu sudah dimasukkan di tasku. I Love You so much Mom ! Maafkan anakmu ini yang selalu menyusahkan :’

 Jam 7 malam, aku pergi ke Pamor. Kami janjian berkumpul disana untuk selanjutnya pergi bersama dengan menggunakan bus telaga biru. Sama seperti biasanya, lalu lintas di Jembatan Ampera kala malam padat merayap sehingga untuk melewatinya saja memakan waktu kurang lebih 20 menit. Handphone ku terus bergetar, sms-sms mengantri untuk dibalas. Sepertinya sudah banyak yang tiba di TKP. Dan benar saja, sesampainya disana memang sudah banyak yang datang. Tumpukan tas, kantong, dan jaket mewarnai pemandangan depan Rumah Makan Pagi Sore itu. Aku kira aku yang paling telat. Namun ternyata, pak ex bupati terhormat malah belum pergi yang notabene rumahnya ada di Palembang coret , katanya (Kenten Laut). Zzzzzz -___-

IMG_4708

Narsis itu bakat sob :')

Narsis itu bakat sob :’)

Azan Isya sudah berkumandang, kami pun bergantian solat dan menjaga barang-barang. Tidak ketinggalan, meramaikan minimarket kartika dengan membeli makanan ringan sebagai amunisi di perjalanan. Bahkan, masakan padang pun jadi sasaran empuk mengisi kekosongan perut sebelum bertualang. Tunggu punya tunggu, Pak ex bupma tak kunjung datang sedang pasukan lainnya, yaitu Kak Irvan malah tak dapat dihubungi, otomatis keberadaan serta keikutsertaannya tidak jelas. Diambilah keputusan untuk mencoret nama beliau yang berarti kuota makin berkurang. Mataku pun tertuju dengan satu nama, Riza Virno. Ini kakak sebenarnya sedang sakit, namun aku dengan semangat menghampiri  Kak Adit dan meminta beliau untuk mengajak Kak Riza agar ikut. Kak Adit malah meminta balik aku untuk menghubungi Kak Riza dan membujuknya. Dengan sigap mengambil HP, search contact, CHE Ka Riza, oke call. Dari seberang, suara yang sudah kukenal memberi salam. Tak ada tanda-tanda suara orang sakit, hanya tidak begitu semangat layaknya biasa. Aku langsung menuju ke tujuanku. Hanya beberapa kata terlontar, “ kak ikut yok” namun berulang kali aku mengatakannya. Daaaan ampuh ! Beliau mau ikut, tapi itu juga setelah ku janjikan memberinya coklat hahah.

Setelah sekian abad menunggu, datanglah yang terhormat ex bupma. Dengan senyuman khasnya, tanpa rasa bersalah ia menyapa kami. Kemudian ia bertanya padaku, “ Cuma bawa tas itu bae ya ?”. Ia melihatku yang sedang berdiri dengan tas punggung 5 cm di pundak serta jaket oranye-coklat yang menggantung pada tali tas. Aku langsung tertawa, aaah basa-basi yang kelewat basi –“ . Kuangkat tanganku sehingga sejajar dengan bahu, kukepal jari-jari dan menyisakan telunjuk yang mengarah ke travel bag hitam yang padat dengan barang. Ia pun tersenyum seperti biasanya, mungkin ia berpikir pria mana yang ‘beruntung’ yang akan kumintai tolong untuk membawakan itu tas :p

Pasukan lengkap, kami pun segera menghubungi oom busnya. Kak Choi yang kebagian tugas tersebut. Sejurus menelpon, air wajahnya berubah. Perasaanku sudah tak enak, ada apa gerangan ? . Aku dekati mereka, ku dengar pembicaraannya. Bus sudah tiba sejak jam 8 tadi, sesuai perjanjian di RM. Pagi Sore. Iya Pagi Sore. Pagi Sore Indralaya tapinyaaa T_T wadeezig ! Aku menatap haru kepada teman-temanku yang sudah sangat sangat lama menunggu . Kami jelaskan kepada yang lain bagaimana keadaannya sembari meminta maaf. Alhamdulillah semua mengerti 🙂 .Tak lama, bus pasar datang untuk membawa kami ke Kota Perjuangan. Waktu telah menunjukkan pukul 21.00. Kami pun berangkat dan menjemput Kak Riza di daerah Jembatan Kertapati (agak ambigu ini maksudnya—“) . Dalam bus, aku menyapanya. Ia pun membuka tas dan mengeluarkan kantong putih yang aku tak tau isinya apa. Via Kak Adit, ia memberikannya untukku disertai pesan, “ bagi sama Uwu ye yak,”  ketika bungkusan itu ada di tangkanku dan tarra ! Tak lain dan tak bukan 2 batang coklat ratu perak chunky bar. Speechless, setelah sekian lama kami meminta akhirnya dikasih :’ wkwk. Aku pun langsung membuka tas, mengeluarkan kantong putih juga, disertai pesan, “gws kakaaak!” pun melalui Kak Adit *semoga amal baikmu diterima nakk :p . Perjalanan terus dilanjutkan, hingga akhirnya sekitar pukul 22.00 kami tiba di Masjid Al-Hijrah Indralaya. Disana sudah bertengger bus putih dengan tulisan ‘ Telaga Biru’ di bagian badannya. Sedang teman-teman dari Indralaya keluar dari halaman masjid degan mata sayu, mengantuk. Wajar, mereka sudah sekian lama menunggu kami , puk puk :’’ . Aku mengikuti keramaian, berjalan ke arah bus dengan menenteng tas yang cukup berat. Kuserahkan tasku kepada yang lain untuk dimasukkan ke bagasi. Lantas kami masuk ke halaman masjid, bersegera baris rapih dan berhitung. 30 orang jumlahnya. 23 orang lelaki dan 7 perempuan. Sebenarnya 31 orang, namun salah satu pasukan, yaitu Eka naik dari Prabumulih sehingga jumlah perempuan pas untuk duduk berpasangan.

IMG_4718

Baris yang rapih yaa :)

Baris yang rapih yaa :)

Baris yang rapih yaa 🙂

Ketika sudah ada instruksi masuk bus, kami (para perempuan) bergegas mencari posisi yang nyaman dan barulah para lelaki (yang katanya) jantan rebutan tempat duduk daaaaan … unpredictable ! Ternyata kursinya kurang –“ Predict sih kalo kurang, tapi paling satu dua orang karena kami memesan bus dengan jumlah tempat duduk 30 orang tapi ternyata yang tersedia hanya untuk 26 orang. Hal ini membuat beberapa orang duduk bertiga dan bahkan ada yang berdiri serta mengapar. Miris, sedih rasanya melihat mereka begitu. Namun apa mau dikata ? hanya senyuman(yang berusaha menenangkan) yang terpancar. Toh mau marah-marah pun tak akan merubah keadaan saat itu . Akhirnya bus pun berjalan dengan 30 orang pasukan +1 yang siap menyambut sejuknya Kota Pagar Alam 😀

Advertisements

Hijrah (lagi)

Assalamualaikum wr.wb

Setelah hampir dua tahun berkutat dengan blogspot, akhirnya goyah juga. Simple is my life , sepertinya itu yang mendasari aku hijrah ke sini. Sudah cukup bermain dengan feature-feature “unyu” disana. Sekarang saatnya berubaaah , menyesuaikan dengan identitas dewasa di kepala dua ini #eeh

Isinya mungkin tak akan jauh beda dengan yang lama , sharing pengalaman, perjalanan, opini , hikmah, yah apapun yang dapat dibagi. Karena kalo kata orang, berbagi itu indah selagi bukan berbagi cinta *yaaak -__-

oke terakhir , semoga dengan hijrah ini, sesuai dengan namanya hijrah, dapat membawa perubahan, dapat membawa kebaikan, keberkahan, dan manfaat  bagi siapa pun juga aamiin 🙂

 

hijrah

Hijrah

 

SRA

Wassalamualaikum wr wb